Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan
pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi
semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan
manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati,
perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh,
dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.
Rudifillah el Karo, Waketum Rumah Dakwah Indonesia, menyatakan kata
cinta memang memiliki banyak defenisi, tergantung pada siapa bertanya
dan kepada siapa cinta itu ditujukan.
Namun, jatuh cinta seringnya menjadi sumber masalah bagi manusia jika
tidak dikelola dengan baik. Kecuali mereka yang melabuhkan perasaanya
tersebut pada orang-orang yang telah halal baginya (suami atau
istrinya).
Atau bentuk cintanya adalah cinta yang berlandaskan kasih sayang bukan
karena nafsu seperti kecintaan Rasulullah pada ummatnya, kecintaan ibu
pada anaknya atau yang lainnya.
Cinta pada lawan jenis yang belum halal seringkali menjadi sumber
bencana bagi pelakunya, ini disebabkan karena cinta adalah perasaan yang
harus dilabuhkan. Pelabuhan cinta pada lawan jenis akan diikuti
perasaan dan tindakan-tindakan lain yang mengiringi perasaan tersebut.
Mereka harus bertemu, berinteraksi, mengungkapkan perasaan dengan
tindakan sampai melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan
norma-norma Islam.
Cinta sebenarnya adalah anugrah dari Allah yang harus disyukuri dan
dijaga, namun jika berlabuh pada dermaga yang salah akan menjadi
masalah. Pelakunya akan “Selingkuh Sebelum Menikah”.
Maksudnya adalah cinta yang harusnya dia berikan pada pasangan hidupnya
malah dia berikan pada orang lain meski dia belum tahu dia kelak akan
jadi suaminya, ini jelas perbuatan selingkuh.
Pertama kali lahir ke dunia kita sudah diperkenalkan Allah dengan cinta
kepada kedua orang tua kita. Namun kemudian kita tidak pernah
mengatakannya jatuh cinta padahal cinta inilah yang menjaga kita sampai
kita mengenal manusia lain di dunia ini.
Kemudian saat remaja mulai tumbuh rasa suka pada lawan jenis. Gadis
bertemu jejaka. Pandang mata melahirkan suka. Interaksi demi Interaksi
melahirkan cinta.
“Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang
diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik.” [Ali Imron: 14].
Abu Muhammad bin Hazm pernah berkata : “Ada seorang laki-laki berkata
kepada Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khattab, ‘Wahai Amirul Mukminin,
sesungguhnya saya melihat seorang wanita lalu saya sangat cinta
kepadanya.’ Umar berkata, ‘Itu adalah sesuatu yang tak bisa dibendung’.”
Cinta kepada lawan jenis kita adalah fithrah setiap manusia. Perasaan
ini tak bisa kita tolak bagaimana pun juga. Namun penting bagi kita
untuk mengelolanya agar ia hanya tumbuh dan berkembang hanya kepada
orang-orang yang telah Allah halalkan.
Rasa cinta terhadap lawan jenis adalah hal yang biasa, namun hal ini harus segera diakhiri dengan pernikahan.
Jika belum mampu menjalaninya, maka alternatif terbaik adalah menjaga
pergaulan dan menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif, menundukkan
pandangan, berpuasa atau menuntut ilmu.
Berikut ini ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengelola hati
kita, untuk menjaga diri dari bahaya Perasaan yang Allah haramkan:
1. Menikah
Menikah adalah salah satu ibadah yang pahalanya paling besar, maka
beruntunglah kita yang sudah menikah. Dalam penikahan membuat pasangan
tersenyum saja sudah ibadah, apalagi ibadah-ibadah lainnya. Selain itu
menikah mampu membendung perasaan yang menggebu-gebu karena menikah
menimbulkan ketenangan dan kenyamanan. Hal ini juga Allah terangkan
dalam firmannya :
“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan
sayang…….”
(Ar-Ruum 21).
(Ar-Ruum 21).
Pilihan ini adalah pilihan yang terbaik dari semua pilihan yang ada.
2. Menghentikannya sebelum menjadi bencana
“Dan janganlah kamu mendekati zina.”
[Al Isra’: 32].
[Al Isra’: 32].
Timbulnya rasa cinta akan mengawali beberapa fase yang akan terus
berlanjut. Oleh karena itu, seseorang harus memupus bisikan hati,
pikiran, mimpi kosong, angan-angan selangit demi menutup celah bagi
keburukan yang besar. Caranya adalah dengan menyibukkan hati dengan
ibadah dan aktivitasseperti pekerjaan dakwah. Jika terus dibiarkan rasa
cinta itu akan terus menguat dan pada akhirnya berujung pada hilangnya
kesejukan hati dalam beribadah.
3. Intropeksi
Tanyakan hati kenapa kita harus jatuh cinta. Kemudian lihat kelemahan
yang ada pada diri kita seperti usia yang masih muda, pengetahuan yang
masih minim, penghasilan yang belum ada, kuliah yang masih panjang. Dan
sadarilah bahwa terlalu dini jika harus terlibat dengan
ungkapan-ungkapan cinta padahal orang yang kita sukai tidak akan bisa
didapatkan untuk saat sekarang. Maka baiknya perbaiki diri agar menjadi
terbaik untuk pasangan kita saat Allah pertemukan kita dengan pasangan
terbaik.
4. Cari kesibukan yang banyak
Kesibukan yang banyak akan mampu menjaga kita tetap dalam jalur yang
benar dalam mendefenisikan dan memposisikan perasaan. Apalagi kesibukan
tersebut adalah kesibukan-kesibukan yang bernilai Ibadah seperti dakwah,
menuntut ilmu dan mecari nafkah.
Namun ini dilakukan jika kita benar-benar belum siap untuk menikah.
Karena sering sekali manusia salah dalam mengukur kesiapannya untuk
menikah. Ini yang sering membuat mereka takut untuk menikah. Poin
terpenting terakhir adalah bagaimana kita mengelola perasaan cinta yang
muncul, jika semua yang muncul kita landaskan pada harapan akan ridho
Allah maka Allah juga akan membantu kita mengelolanya.
“Paling kuat tali hubungan keimanan ialah cinta karena Allah dan benci karena Allah. (HR. Ath-Thabrani).
Izinkan Aku Menikah tanpa Melalui Pacaran
Rudifillah el Karo membahas fenomena yang sering ditemui dalam
masyarakat, dimana semua orang tahu kalau perbuatan tersebut berdosa,
namun banyak yang tidak mampu atau sangat sulit menghindarinya. Bahkan
banyak yang menikmati perbuatan dosa tersebut. Perbuatan tersebut adalah
Pacaran sebelum Menikah.
“Agar menarik mari kita ubah statementnya menjadi; “Izinkan Aku Menikah Tanpa melalui Pacaran” ucapnya.
Apa hal itu mungkin terjadi?? Menurut Rudifillah el Karo, pertanyaan tersebut muncul ketika seseorang memutuskan untuk menikah tanpa pacaran terlebih dahulu.
Dikatakan, segera ketika berita lamaran merebak di kalangan keluarga
beberapa pihak bertanya-tanya kepada orangtua mereka. Kapan kenalnya? Di
mana? Bagaimana? Koq bisa memutuskan menerima lamaran jika belum kenal?
Nanti kalau orang jahat atau berpenyakit gimana?
“Seolah kita terjebak pada stigma Negatif di masyarakat bahwa mengenal
seseorang itu harus dari proses pacaran terlebih dahulu,” jelasnya.
Rudifillah el Karo menjelaskan perkenalan (ta’aruf) adalah salah satu
tahapan ukhuwah islamiyah, oleh karena itu tak heran jika orang banyak
mempertanyakan keputusan menerima lamaran sebeum “kenal”.
Oleh karena itu tidak heran jika orang banyak mempertanyakan keputusan
menerima lamaran sebelum “kenal”. Pepatah juga mengatakan: tak kenal
maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak dilamar.
Apakah sebelum menikah seseorang harus saling kenal? Rudifillah
el Karo menegaskan jawabannya adalah “YA HARUS!!”, meskipun seberapa
“kenal”nya, dan apa yang perlu dikenal masih bisa didiskusikan.
Jangankan dalam urusan memilih istri/suami, memilih teman-pun perlu
mengenal lebih dahulu sebelum cukup percaya untuk pergi bersama.
“Sayangnya, dalam kebiasaan zaman sekarang yang namanya ajang saling
kenal antara dua orang anak muda yang akan menikah adalah lewat HUBUNGAN
PALSU yang namanya PACARAN,” ujarnya.
Mengapa palsu? Dijelaskan,
sebab seringkali ketika berpacaran kedua insan tersebut tidak
memperlihatkan sifat-sifat asli mereka, serba setuju dengan apa kata
pasangannya.
Seseorang yang sedang kasmaran cenderung berubah dari kebiasaan aslinya.
Biasanya tidak hobi nonton Bola jadi hobi, tidak suka warna Pink jadi
suka. Biasanya cuek sama yg namanya boneka jadi hapal mana boneka Teddy
Bear, Kodok Hijau, Hello kitty dll.
“Pacaran dalam istilah sekarang adalah: sebuah bentuk hubungan antara
sepasang anak manusia lain jenis yang mempunyai ketertarikan HUBUNGAN
SEX. Pacaran dengan aktivitas pergaulan fisik tanpa norma Islam (sejak
pegang-pegangan tangan sampai seterusnya) bukan hanya tidak perlu,
bahkan juga tidak boleh atau haram dalam Islam,” ungkapnya.
Dijelaskan, Islam melarang zina dengan arti sejak zina hati (melamun,
bermimpi dengan sengaja, melihat foto dan lain-lain tanpa pertemuan
fisik), zina mata (melihat langsung, berpandang-pandangan dan lain-lain)
sampai zina badan (sejak pegangan tangan sampai hubungan sex
sebenarnya).
“Meskipun untuk setiap perbuatan tersebut jenis dosa-nya berbeda, tetapi
tetap saja semua adalah dosa. Zina badan dalam arti sampai hubungan sex
terjadi jelas merupakan dosa besar,” terangnya.
Bagaimana cara saling mengenal yang diperbolehkan? Islam
mengajarkan proses ta’aruf dalam mencari pasangan hidup. Zaman sebelum
ada teknologi canggih, para pendahulu kita biasa mengirim utusan ke
pihak calon mempelai.
Pihak pria mengirim seorang wanita terpercaya untuk “melihat” si wanita
yang akan dilamar dan sebaliknya pihak wanita juga mengirim pria
terpercaya untuk menyelidiki pria yang akan melamarnya. Untuk batas
tertentu keduanya dibenarkan untuk saling melihat fisik.
Batasannya adalah sejauh batasan aurat yang boleh dilihat umum (semua
tertutup kecuali muka dan telapak tangan). Jika ingin melihat lebih
jauh, harus mengirim utusan seperti di atas (wanita melihat wanita dan
pria melihat pria).
Aspek fisik bukan hal terpenting untuk dikenal. Aqidah, akhlaq dan
fikroh jauh lebih penting sebab itu semua adalah hal-hal yang bersifat
lebih menetap dan lebih berpengaruh dalam sikap sehari-hari.
Untuk mengenal dan memahami isi pikiran, aqidah dan akhlaq haruslah
dengan cara peninjauan yang berbeda dengan mengenal hal-hal fisik. Untuk
ini, selain mengenal langsung, juga lewat referensi.
Misalnya dengan mengirim utusan untuk menyelidiki isi pikiran tersebut, atau dengan cara bertanya secara langsung.
Mengapakah Fit and Proper Test tentang isi pikiran, aqidah dan akhlaq jauh lebih penting daripada perkenalan fisik? Jika
ada seseorang yang dengan serius menganggap bahwa hidup ini adalah
untuk beribadah, beramal manfaat dan menggapai akhirat, maka ia akan
sangat peduli untuk berteman dan apalagi berpasangan hidup dengan yang
baik akhlak dan ibadahnya.
Disamping semua hal di atas yang paling penting adalah mempersiapkan
diri menjadi suami yang ideal untuk wanita muslimah yang hendak akan
kita pinang dan bawa ke syurganya Allah. Wallahu a’lam bi showab.

0 Response to "Salahkah Jika Aku Jatuh Cinta? Izinkan Aku Menikah tanpa Melalui Pacaran"
Post a Comment