Tulisan ini oleh: @LaOdeMunafar
Semua yang aku miliki telah aku persembahkan untuk pacar. Dia adalah
Dani. Kurang baik apa diri ini pada Dani, sampai dia meninggalkanku
seperti sampah bekas.
Tapi akhirnya aku sadar. Ternyata bukan masalah baik atau tidaknya. Tapi karena pacaran itu sendiri bermasalah.
Sebaik apapun diriku pada pacar, namun jika terjun dalam dunia pacaran
akan terjebak jg. Lihatlah betapa murahnya tubuh ini, aku berikan GRATIS
atas nama pacar.
Bukankah ini lebih hina dari pelacur yang mereka punya tarif? Begitu
bodohya aku menyerahkan harga diriku atas nama pacar tanpa tanda sah.
Bukankah ini lebih murah dari ayam.
Sekarang aku hamil. Bingung meminta pertolongan pada siapa, sementara
Dani telah meninggalkanku. Pada orang tuaku? Aah tidak mungkin, yg ada
malah marah besar padaku.
Pada keluarga Dani? Malah aku yang disalahin karena dinggap merusak
hidup Dani. Mau lapor ke polisi, bagaimana Dani dihukum sementara kami
lakukan suka sama suka.
Lalu pada siapa aku mengadu? Pada Allah? Betapa malunya diri ini sudah
melanggar firman_Nya. Ataukah janin yang aku miliki sekarang digugurkan
saja?
Itu membuat aku berbuat seperti binatang. Apa sekalian menghancurkan diriku dengan menjadi pelacur?
Sungguh makin hina. Apakah aku minta dinikahi sama orang lain? Lalu
orang berhati malaikat mana yg mau nikah dengan wanita kotor sepertiku?
Coba andai saja waktu aku bisa putar, aku memilih tidak akan pernah
menyentuh pacaran. Andai saja bisa mendapatkan tulisan/ceramah tentang
bahaya pacaran, aku tidak melakukannya.
Sebab beginilah pacaran, benar-benar membuat diriki terjerumus hingga bisa melakukan banyak kemaksiatan lain.
Catatan: Cerita di atas adalah hasil kesimpulan penulis setelah 5 tahun
melayani curhatan pembaca yang bertobat membaca bukunya. Untuk nama
tokoh di atas hanyalah fiksi.
*Penulis adalah motivator & penulis muda yang telah menulis 52 Judul buku-buku cinta dan Motivasi.

0 Response to "Astaghfirullah, Ternyata Pacaran Bisa Lebih Hina Dari Pelacur"
Post a Comment