Trik penipuan di online shop makin beragam. Bukan cuma menyasar para
pembeli, si pemilik online shop juga bisa menjadi korban penipuan oleh
penyedia jasa untuk menaikkan jumlah follower di Instagram atau dikenal,
Paid Kroyok Target (PKT).
Seperti yang dialami pemilik online shop bernama Ulfa. Bersama teman-temannya, dia ditipu sebuah grup PKT.
Cerita itu bermula saat dia mendapatkan kabar dari rekan-rekannya di
grup Line tentang profile penyedia jasa PKT sekaligus link sebuah situs
yang dikelola seorang wanita bernama Sri Sukesih. Saat dikunjungi, usaha
yang dijalankan situs itu cukup meyakinkan di mana memuat beberapa
informasi pengelolanya, seperti data pribadi pemilik PKT, foto,
rekening, tabungan, KTP, akte lahir hingga data kedua orangtua, semua
lengkap.
"Link yang kita buka itu cukup meyakinkan," kata Ulfa saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (16/9).
Singkat cerita, setelah bergabung ke grup PKT itu, para member online
shop kemudian melakukan transaksi pembelian follower. Kemudian
ditentukanlah tanggal pembayaran melalui transfer.
"Kalau PKT yang jujur, itu langsung mulai dikerjakan (mencari follower
di Instagram). Kita tiap malam juga dapat laporan, onlineshop kita sudah
disebar ke mana saja, dan sudah berapa banyak follower bertambah. Kalau
keroyokannya rajin bisa 1.000 follower bisa selesai dalam tiga hari,"
jelas.
Beberapa hari setelah melakukan transaksi, para member mulai curiga
karena menambahkan follower sangat lambat. Mereka makin curiga saat
salah satu nomor yang dicantumkan tak bisa dihubungi.
"PKT aktif, tapi tersendat, makanya kita curiga," tambahnya.
Merasa telah ditipu, sejumlah member melakukan pelacakan pada PKT milik
Sri Sukasih. Mereka coba menelepon ke nomor lainnya yang tertera.
Rupanya, nomor itu tersambung ke seorang ibu-ibu yang tak mengerti sama
sekali soal bisnis online shop dan PKT. Member itu kemudian melakukan
video call pada si ibu tersebut. Dari keterangan ibu tersebut,
dirinyalah yang bernama Sri Sukasih dan benar KTP yang ada di grup PKT
itu miliknya.
"Setelah ditanya dan ditunjukkan foto si pemilik PKT, ternyata yang
selama ini menawarkan jasa itu adalah putrinya Windy Putri Pratiwi,
siswi SMA Negeri 1 Parongpong, usianya 17 tahun, warga Desa Karangwangi,
Kecamatan Parongpong. Jadi dia pakai KTP ibunya," jelasnya.
Akibat ulah Windy, lanjutnya, beberapa rekannya yang satu grup dengannya
merugi dengan total nilai Rp 22 juta. Setelah diselidiki lebih jauh,
Windy ternyata punya 3 grup PKT dan 1 group endorse.
"Dari 3 grup PKT dan 1 group endorse lebih kurang kerugiannya 50 juta," jelasnya.
Tak terima menjadi korban penipuan, sejumlah member kini memburu Windy.
Mereka berencana melaporkan kasus itu ke Polres Parongpong, Bandung
Barat. Bila Windy tak ditemukan di rumahnya, mereka akan mencari hingga
ke sekolahnya.
Sekadar informasi, banyak jenis iklan yang bisa dilakukan oleh
onlineshop untuk menaikkan jumlah follower. Di antaranya melalui endorse
selebgram, endorse artis, jasa promote/iklan, sfs atau shoutout for
shoutout (sesama onlineshop saling mempromosikan di Instagram
masing-masing) dan Kroyokan (di mana foto jualan dipromosikan di 20-30
onlineshop). Paid Kroyokan Target atau PKT merupakan Kroyokan berbayar
yang akan dikerjakan oleh owner (yang membuka jasa PKT) biasanya slot
yang dibuka hingga ratusan. Paid Kroyok Target Personal atau PKTP adalah
sama dengan PKT tapi slot yang dibuka sedikit.
Untuk bisa ikut PKT, para onlineshop harus membayar sesuai dengan
follower target yang diinginkan. Harga per slot PKT dimulai dari Rp 200
ribu hingga Rp 5 juta.

0 Response to "Tipu pedagang olshop, siswi SMA di Bandung tilep Rp 50 juta"
Post a Comment